angsa kertas

by pramana

adalah hujan,
turun satu-satu dari awan,
resap di bumi.
entah antara jenius atau bodoh, mereka yang tega menghitung rintiknya,
detail,
tetes demi tetes, dan mengklaim sejumlah itu rindunya.

rindu saya cuma satu.
sama seperti jumlah angsa kertas yang saya letakkan tepat di tengah,
diantara dada dan kepala.
di dekat dada agar terus hadir,
di dekat kepala untuk jadi masa depan.

tidak seribu, atau seratus,
atau berjuta.
cuma satu.
satu angsa, dari kertas.
kertas dengan bermilyar-milyar huruf,
yang seberapa keras pun kau berusaha menyusun hurufnya,
hanya satu kata yang terbentuk,
kita“.

jakarta. 22 April 2011. Saat dunia dalam berita meluncur dari televisi.

Iklan