Memandang Jakarta Saat Hujan Tiba

by pramana

Hujan itu meredakan suara.

Semua kejadian seperti berlangsung dalam diam.

Mereka layaknya menari, memainkan gerakan, diiringi tepuk tangan petir.

Nyata, seperti biasa.

 

 

Ah.

Lagi lagi saia jatuh cinta pada hujan.

Setuju dengan seorang teman yang mengagumi baunya.

Sependapat dengan seorang lain yang selalu menanti  awan gelapnya.

 

 

Alam memainkan nadanya.

Bersatu gemuruh petir, alunan angin, dan petik air.

Matahari, bulan, bintang menyaksikan dari atas, tenang dalam barisan langit, menunduk di angkuh cahaya.

 

 

Saia berusaha sombong, menyatu jadi melodi alam.

Memacu roda diantara angin.

Sedikit dihentakkan petir, pasrah dalam permainan air.

Ah.

Saia tidak akan mengakui telah dikalahkan.

Biar dinginnya mulai menyentuh tulang, dan nafas mulai diuraikan satu satu.

Nyatanya saia belum tumbang, dan roda ini masih berputar seperti biasanya.

Iklan