memandang lapangan banteng

by pramana

lapangan banteng, jam makan siang pegawai negeri.

duduk di sebuah warung kopi tanpa atap. siang itu matahari bersinar tidak terlampau terik, panasnya tidak cukup menganggu. angin berdesir menyisir daun-daun. asap rokok sesekali berhembus di sela-sela udara, lalat beterbangan mengitari bungkus-bungkus makanan yang dibuang. beberapa ekor kucing duduk diam di bawah meja, menanti sedikit kebijakan hati manusia. tampak dua ekor burung pipit saling berkejaran di lapangan, sesekali terbang merendah, tinggi lagi, lalu bercumbu di ranting kecil Akasia. seekor Gelatik memandangi mereka, termangu sambil memainkan kaki, sepertinya cemburu.

di kejauhan, terlihat dua manusia, duduk manis di bawah rindang pepohonan. seorang ibu yang renta, dan anak perempuannya yang balita. beralaskan koran, entah lama, entah baru. sang ibu menggendong anaknya, bibirnya bersenandung, tampak seperti menyanyikan sebuah lagu tidur. anak kecil itu diam saja, kadang lehernya bergerak, menoleh ke kanan dan ke kiri. mungkin suara sang ibu justru mengganggunya, membuat jam tidurnya tidak seindah biasa. mungkin dia resah, melihat manusia-manusia menjejali warung makan, menikmati hidangan sambil bicara dan tertawa. mungkin dia melihat anak lain yang berwajah gembira karena ayahnya membawakan mainan, atau mungkin dia lapar? siapa yang tahu? tidak ada yang tahu, kecuali anak itu dan mungkin ibunya.

sang ibu masih memainkan lagu sambil tersenyum, bersenandung tentang keceriaan. agaknya berharap anaknya cepat tidur,

agar bisa bermimpi bertemu kue tart yang tinggi di hari ulang tahunnya,

atau bermimpi tentang tangannya yang memegang handphone seri terbaru,

atau bermimpi bisa bangun pagi, memakai seragam putih-merah dan mencium tangan ibu bapaknya sebelum pergi ke sekolah.

sang ibu masih terus bernyanyi, lirih. dan aku harus pergi, karena bel untuk masuk lagi, sudah berbunyi.

 

 

 

endji787.06 

Iklan