Bukit Duabelas tidak dihuni Gajah Sumatera lagi

by pramana

Diduga kuat populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) telah hilang dari kawasan Bukit Duabelas. Hasil penelitian ZSL dari 24 April s.d 07 Juni 2007 di Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dan sekitarnya menunjukkan tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan spesies gajah sumatera.

“Kami telah melakukan rapid survey di dalam cell penelitian seluas 1734 km2 secara berjalan kaki ± sepanjang 249 km selama 3 bulan guna mencari tanda-tanda keberadaan landscape species, yaitu harimau dan mamalia besar lainnya,” kata Coordinator Survey ZSL, Adnun Salampessy, Jum’at (23/5) .

Menurut dia, hasil rapid survey menunjukkan spesies penting harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih menghuni kawasan Bukit Duabelas beserta beberapa predator menarik lainnya, salah satunya adalah macan dahan (Neofelis nebulosa) serta beberapa satwa mangsa potensialnya, yaitu rusa sambar, babi hutan, kijang, kancil dan beberapa jenis monyet. 

Selain satwa mamalia menarik lainnya juga ditemukan beberapa jenis dari kelas Aves yang telah tercatat dalam Red List of Threatened Species IUCN dan terdaftar dalam Lampiran CITES seperti jenis sempidan merah (Lophura erythrophthalma), dan 4 (empat) jenis rangkong. Namun sayang, Tim tidak menemukan tanda-tanda keberadaan landscape species lainnya yang langka, yaitu gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) yang diperkirakan telah punah beberapa tahun lalu dikarenakan aktivitas perburuan dan karena tingginya laju pembukaan hutan yang menjadi habitat gajah dan harimau. Namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan, sepantasnya perlu dilakukan inventarisasi lebih detail agar lebih paten data gajahnya.

Departemen Kehutanan dalam websitenya menjelaskan semula kawasan ini merupakan Kawasan hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas dan areal penggunaan lain yang digabung menjadi taman nasional. Saat ini Hutan alam yang masih ada terletak di bagian Utara taman nasional ini, sedangkan yang lainnya merupakan hutan sekunder. Namun, hasil rapid survey ZSL menunjukkan bahwa salah satu ancaman terbesar Bukit Duabelas adalah pembalakan liar (illegal logging) dan banyak terkonsentrasi di bagian Utara kawasan Bukit Duabelas, yang pemain dilapangannya berasal berasal dari Desa-Desa bagian Utara sekitar kawasan Bukit Duabelas. Selain itu, ancaman perburuan harimau juga terdapat dikawasan Bukit Duabelas sebelah Timur dari Bukit Duabelas dan salah satu pemburu harimau yang secara turun temurun melakukan profesi pemburu harimau berasal dari Desa Jelutih Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batang Hari.

Sayon kelana (Polhut TN Bukit Duabelas) dan masyarakat Orang Rimba juga menjelaskan bahwa pembalakan liar di bagian Utara sudah sangat mengkhawatirkan dan dilakukan oleh Desa-Desa di sekitar bagian Utara Bukit Duabelas. Desa-Desa tersebut merupakan pemain lama dan sudah turun temurun melakukan pembalakan kayu di Bukit Duabelas dan sangat sulit orang-orangnya jika kita ingin melakukan kegiatan pembinaan di sana.

Menurut Wientre (2003) dalam Makalah Studi Lapangan : Organisasi Sosial dan Kebudayaan Kelompk Minoritas Indonesia dengan Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Sumatera (Orang Kubu Nomaden) disebutkan dalam tulisan sejarahnya bahwa sebelum status Taman Nasional Bukit Duabelas diumumkan degradasi habitat sangat signifikan dengan kepunahan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati fauna termasuk serang-serangga, burung-burung, ular-ular, kura-kura, babi hutan, rusa, kijang, harimau sampai binatang menyusui terbesar gajah. Sayangnya spesies gajah telah punah pada tahun 1985 di daerah Bukit Duabelas.

“Selain itu, menurut mayoritas Orang Rimba Bukit Duabelas dan masyarakat lokal yang tinggal disekitaran kawasan Bukit Duabelas menjelaskan bahwa telah puluhan tahun kami tidak pernah melihat dan mendengar kalau masih ada gajah di dalam kawasan Bukit Duabelas dan sekitar Desa kami, namun mereka telah mengetahui dari penduduk yang tinggal di sebelah Utara-Barat dan berada jauh dari kawasan Bukit Duabelas bahwa kawanan gajah suka mengganggu perkebunan kepala sawit milik warga. Sepertinya keberadaan satwa langka gajah sumatera telah punah punah di Bukit Duabelas,” Adnun menambahkan.

ZSL sebagai bagian dari lembaga konservasi dunia bersama PHKA dan beberapa LSM sampai saat ini sedang melakukan kajian ilmiah terhadap status populasi harimau sumatera melalui program/kegiatan utama “island wide survey” berupa penelitian dan pelestarian untuk harimau dan satwa besar liar Indonesia dengan pendekatan bentang alam, serta berupaya mendorong pihak industri untuk berpartisipasi dalam konservasi satwa liar dan habitatnya.

Penelitian di Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas bertujuan untuk mengetahui komposisi spesies vertebrata, kelimpahan relatif dan peta distribusi harimau sumatera dan satwa mangsanya serta predator pesaing harimau sumatera maupun ancamannya serta memahami keberadaan harimau dan spesies lainnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi akurat terkini di Provinsi Jambi, khususnya di Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dalam upaya memahami keberadaan harimau sumatera dan mamalia besar lainnya secara lestari dan berkelanjutan.

Kegiatan survey cepat (rapid survey) mamalia ini merupakan hasil kerja sama antara ZSL dan Balai TN Bukit Duabelas, yang terdiri dari 2 orang field staff dari ZSL, 4 orang volunteer dari Kehutanan Universitas Lampung dan MAPALA Universitas Indonesia, 2 orang dari Orang Rimba dari tiap-tiap Temenggung berdasarkan lokasi survey dan 2 orang staff dari Balai TN Bukit Duabelas. Sebanyak 2 tim telah dibentuk secara teroganisir dan masing-masing tim dikepalai oleh 1 orang sebagai tim leader. ZSL merupakan organisasi yang mengepalai dan memanaje kegiatan rapid survey ini. (AS)


Posting oleh Adnun Salampessy, S.Hut ke HARIMAU JAMBI

Iklan