STAPALA LEUSER EXPEDITION 2007 >>> the journal (8)

by pramana

Hari ke-8, Sabtu, 1 September 2007
( Camp “Ujan” – Bipak Batu )

Jam 6 pagi kami sudah bangun, melongok ke luar tenda, pemandangannya indah sekali. Namun sayang tak bertahan lama, kabut mulai datang dan menutupinya menjadi serba putih. Kebiasaan kami di pagi hari yaitu buang air besar. Bergantian kami mencari tempat yang nyaman untuk melakukan ritual penting tersebut. Mandipun praktis tidak kami lakukan, paling hanya mengelap badan saja. Sedangkan gosok gigi pastilah, namun tidak menggunakan pasta gigi. Kebersihan badan harus dijaga agar tubuh tidak gatal-gatal yang nantinya malah bisa menghambat perjalanan.
Kami mengatur packing kembali, barang-barang yang sekiranya tidak dibutuhkan lagi kami tinggal di sini. Pakaian-pakaian basah kami tinggal, kami memutuskan saat jalan langsung pakai raincoat saja. Tabung-tabung gas kosong, batu baterai bekas, pasak tenda yang terlalu banyak, dan barang-barang rusak dimasukkan polybag untuk kemudian ditinggal di sini. Lumayan untuk meringankan beban.
Kondisi Pak Ali sudah kembali sehat, anggota tim yang lain juga sehat. Pukul 09.40 kami memulai pendakian hari ke-8. Kami berjalan dengan semangat melewati padang rumput yang relatif menurun terus. Kalau jalurnya begini kita pasti lebih cepat jalannya. Kemudian padang rumput berganti dengan semak perdu. Jalurnya naik turun bukit, entah berapa bukit yang sudah kami daki, kami sampai malas menghitungnya. Setelah melintasi semak perdu, kembali masuk hutan lumut. Lumutnya yang tebal akan membuat pakaian basah, oleh karena itu memakai raincoat adalah pilihan yang tepat.
Selepas hutan lumut, jalur kini melewati semak perdu lagi. Tumbuhan-tumbuhan semak yang tingginya sekitar sebadan itu ranting-rantingnya menjorok ke jalur. Badanpun harus disiapkan untuk menerjangnya. Yang berjalan di belakangnya juga harus hati-hati menjaga jarak jangan terlalu dekat jika tidak ingin tersabet ranting.
Pukul 11.49 kami beristirahat, si Jaed sudah tak tahan lagi untuk buang hajat. Tadi pagi sepertinya ia memang belum sempat untuk setor. Di jalan tadi, kami menemukan kotoran binatang yang mirip dengan yang kami jumpai sebelumnya. Jejak kambing hutan juga kami temui kembali. Saat itu kami berada di puncak bukit dengan vegetasi padang rumput. Keadaannya hampir sama dengan tempat penemuan sebelumnya, berarti memang di daerah sinilah habitat mereka. Selain itu kami juga melihat bunga-bunga berwarna-warni. Ada yang merah, putih dan kuning. Kami tidak tahu jenis apa itu. Kata Pak Ali bunga tersebut namanya adalah bunga ‘geseng’.
Setelah Jaed selesai, kamipun melanjutkan perjalanan lagi. Jalur masih naik turun bukit dengan vegetasi padang rumput yang kemudian berganti semak perdu lagi. Hari itu cuaca cerah, namun kabutnya cukup tebal. Jam setengah satu kami tiba di Bipak Kaleng, setelah terakhir tadi menuruni turunan panjang dimana sebelah kanan adalah jurang. Kami tak bisa melihat ke bawah jurang tersebut karena kabut sudah menutupinya. Sedangkan di sebelah kiri jalur adalah lereng-lereng landai yang ditumbuhi padang rumput.
Di Bipak Kaleng kami beristirahat, makan biscuit dan coklat. Untuk makan siang memang kami siapkan snack saja agar tidak terlalu lama. Dua puluh menit beristirahat lalu kami lanjut jalan lagi. Treknya naik sebentar kemudian masuk hutan lumut lagi. Di balik treknya yang susah, hutan lumut memiliki nuansa tersendiri yang menyejukkan. Suasananya yang basah, lembab, serba hijau, bisa membuat kita merenungi betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Hutan lumut lebat seperti ini mungkin yang menjadi ciri Gunung Leuser, sulit menemukannya di gunung-gunung lain.
Trek di hutan lumut juga naik turun, cukup curam juga. Setiap naik tinggi sampai puncak bukit, terbukalah vegetasinya. Saat turun kembali masuk lumut lagi. Sempat juga terlihat burung berwarna hitam meloncat dari dahan ke dahan di hutan itu. Selepas keluar hutan lumut, kini menyusuri padang rumput. Gerimis rintik-rintik menyertai kami, kabutpun bertambah tebal, membuat jarak pandang menyempit. Jalur lumayan landai dan vegetasi terbuka, kemudian turun sebentar baru sampailah di Bipak Batu. Pukul 16.20 kami sampai di Bipak Batu, hujan sudah mereda. Pak Ali telah nampak sibuk mencari kayu-kayu untuk membuat api. Kulit kayunya yang basah dikelupas terlebih dahulu. Pak Ali juga membawa kayu tusam, sedikit saja dari cacahan kayu tusam sebagai bahan bakar untuk menyulut api.
Meski hujan telah reda, anginnya sungguh kencang. Flysheet kami dibuat terbang-terbang, tendapun juga bergoyang-goyang. Di sini daerahnya memang terbuka, tidak ada pelindung dari terpaan angin. Suara angin terdengar menderu-deru, kabut putih menutupi semua. Kami hanya di dalam tenda, ngobrol-ngorol, makan, dan berharap kondisi esok hari akan lebih baik.

Iklan