STAPALA LEUSER EXPEDITION 2007 >>> the journal (7)

by pramana

Hari ke-7, Jumat, 31 Agustus 2007
( Kolam Badak – Camp “Ujan” )

Rencana pendakian hari ini adalah menuju ke Bipak Kaleng. Cuaca cerah tak terhalang kabut, kami bisa menikmati pemandangan indah terbuka dari tempat camp. Pukul 09.17 kami mulai start jalan lagi. Melewati semak perdu yang rapat kemudian masuk lagi hutan lumut. Banyak sekali halang rintangnya, pohon-pohon melintang rendah, mengharuskan.kami berjalan merangkak dan sesekali agak merayap. Keluar hutan lumut langsung tanjakan terjal. Susahnya lagi adalah tanahnya licin, sulit untuk jadi tumpuan. Mencoba terus naik dengan mencari pegangan pada tumbuhan-tumbuhan semak. Pelan-pelan dan hati-hati agar tidak terpeleset dan merosot jauh ke bawah.
Setibanya di puncak bukit, perasaanpun lega, langsung saja kami mencari tempat untuk beristirahat. Dari sini kita bisa melihat betapa rapatnya vegetasi di bawah sana. Lanjut jalan lagi menyusuri punggungan dengan vegetasi semak perdu yang rapat. Tubuh selalu bergesekan dengan tumbuhan-tumbuhan di kanan kiri jalur. Pungungannya juga berkontur naik turun, namun tidak terlalu curam. Semakin lama punggungannya semakin tipis, kanan kiri adalah jurang. Di sini kabut mulai turun menutupi pemandangan yang sebetulnya terbuka ke segala penjuru, sayang sekali.
Di tengah jalan kami sempat melihat kotoran binatang, tapi entah tak tau kotoran apa. Warnanya abu-abu, bentuknya panjang seperti kotoran kucing. Kata Pak Ali di daerah sini banyak landak, mungkin yang tadi adalah kotoran landak. Kami juga menemukan jejak seperti kaki sejenis kambing yang kami tengarai sebagai jejak kambing hutan.
Hujan turun cukup lebat, kami berhenti sebentar untuk mengenakan raincoat dan langsung jalan lagi, masih menyusuri punggungan tipis. Akhirnya pukul 12.57 sampailah di Bipak 3. Keadaan di Bipak 3 sangat terbuka, dengan vegetasi padang rumput. Tidak berlama-lama di situ karena lebatnya hujan, kami hanya mengeluarkan logistik no.13 untuk ditinggal, mendobel plastiknya dan menutupinya dengan seng-seng yang ada di sana. Setelah itu kami langsung lanjut jalan.
Kami menyusuri padang rumput dalam hujan. Langkahpun kami percepat karena medannya relatif datar. Logistik yang sudah banyak berkurang sangatlah berpengaruh, ransel carrier sudah tidak setinggi kemarin-kemarin, namun daypack masih kami bawa di depan. Meski cukup menggangu dalam jalan, apalagi saat medan naik turun, daypack bermanfaat untuk menyimpan barang-barang kecil dan barang lain yang sering kita butuhkan selama perjalanan.
Jalur kembali memasuki hutan lumut. Walaupun tidak terlalu lama hutan, namun kondisi jalur tetap sulit, pohon-pohon masih melintang sembarangan, merunduk jongok, merangkak masih tetap kami alami. Keluar hutan lumut, bergantilah menjadi semak perdu lagi. Dan lalu kembali padang rumput.
Pak Ali berjalan paling depan, kami sering ketinggalan jauh malah. Namun apabila ada persimpangan jalan, Pak Ali selalu memberikan tanda medan. Aku yang tertinggal di belakang, melihat di kejauhan sana tampak Gamex melambai-lambai. Tampaknya aku disuruh agar lebih cepat. Kupercepat langkahku dan segera kutanyakan ada apa. Ternyata Pak Ali sudah kedinginan dan meminta untuk ngecamp di sini saja. Saat itu hujan masih mengguyur kami. Ponco yang dikenakan Pak Ali memang agak bocor. Dengan segera kami membangun tenda.
Tempat camp kami terletak di puncak bukit, terbuka, tempatnya cukup datar. Sumber airnyapun ada berupa air yang tertampung di lubang-lubang di tanah. Dari situ kira-kira 2,5 jam lagi baru sampai di Bipak Kaleng. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.15. Kita harus memperhatikan kesehatan dan kondisi fisik daripada terus memaksakan target. Pak Ali memang tampak lemah saat itu. Kopi panas, energen langsung segera dibuat untuk menghangatkan tubuh. Saat itu suhu udara mencapai 100 celcius. Pakaian-pakaian basah dilepas, ganti dengan pakaian hangat. Nasi, sosis dan ikan asin sangat menenteramkan perut dan hati ini.

Iklan