STAPALA LEUSER EXPEDITION 2007 >>> the journal (5)

by pramana

Hari ke-5, Rabu, 29 Agustus 2007
( Lintasan Badak – Blangbeke )

Semua langsung sudah sibuk menata jemuran masing-masing. Kami memang membawa sedikit baju ganti untuk meringankan beban. Pakaian jalan, pakaian tidur dan pakaian cadangan satu stel sudah cukup. Pukul 09.30 kami mulai jalan, tujuan hari ini adalah sampai di Blangbeke. Jalur masih menyusuri hutan lumut yang lebat dan lembab serta tanah yang licin. Treknya juga curam, tapi kali ini naik turun. Hati-hati pula terhadap sulur rotan yang melintang di tanah. Meskipun kecil tapi sungguh kuat. Kalau tersandung ini bisa-bisa terjungkal. Terkadang juga kita harus melintas di atas pohon-pohon tumbang. Memangul beban berat sungguh butuh kekuatan keseimbangan, jangan lengah jika tak ingin terperosok. Memilih pijakan yang tepat, yang benar kokoh dan stabil. Pohon-pohon yang melintang lebih bervariasi, di kondisi jalur naik bahkan kita harus sambil merangkak dan bahkan sedikit merayap.
Akhirnya kami tiba di Pepanji setelah 3,5 jam jalan. Pepanji bisa untuk tempat ngecamp, namun konturnya miring dan tempatnya sempit, lembab pula. Di sini kami istirahat makan biskuit dan coklat. Paket logistik no.14 kita timbun di sini.
Setengah jam istirahat, langsung lanjut jalan lagi. Jalur masih di dalam hutan lumut yang lebat, dan tetap naik turun, tidak jauh beda dari yang menuju Pepanji tadi. Setelah lama terkungkung dalam rimbunnya hutan lumut, akhirnya ada daerah dimana bisa mendapat pemandangan yang indah, yang disebut Singamata. Di Singamata ini kita bisa melihat lembah-lembah yang indah. Nampak juga air terjun di kejauhan. Setelah Singamata, jalur kembali hutan lumut, dan masih juga naik turun.
Lama-lama jarak antar anggota tim kian merenggang. Pak Ali jauh di depan, disusul Gamex. kemudian Vjay dan Jaed, sedangkan aku tertinggal jauh di belakang. Kami biasanya saling menggunakan kode dengan berteriak “kuuk” untuk mengetahui seberapa jauh jarak yang di depan dan yang di belakang. Namun saat itu jaraknya sangat jauh sehingga tak saling terdengar lagi. Aku yang tertinggal sendirian di belakang sempat merasa frustasi dan kehilangan semangat dalam mendaki. Sepi, di tengah hutan lumut lebat seperti ini, kondisi fisikpun sudah sangat menurun. Jalurnya yang licin membuatku sering terjatuh. Untuk bangun lagi dan melanjutkan berjalan terkadang sangat berat sekali. Memang harus sedikit dipaksa untuk terus berjalan.
Dari Pepanji tadi memang ditargetkan untuk jalan lebih cepat agar bisa mencapai Blangbeke tidak sampai malam hari. Ternyata memang benar kami kemalaman. Pak Ali tiba dahulu di Blangbeke sekitar jam enam sore, disusul Gamex, kemudian Vjay dan Jaed setengah jam kemudian. Sedangkan Aku baru tiba jam tujuh malam. Hari itu merupakan pendakian terlama dari hari-hari sebelumnya.
Malamnya diadakan evaluasi mengenai kejadian tadi. Kita tidak sepatutnya saling meninggalkan yang lain dalam jarak yang tidak terpantau. Kondisi seperti itu jelas kurang baik karena jika terjadi apa-apa mungkin yang lain malah tidak tahu. Memang tempo dan cara mendaki berbeda-beda. Ada yang jalannya cepat dan ada pula yang pelan-pelan namun jarang istirahat lama-lama. Kita harus bisa saling memahami satu sama lain.

Iklan