STAPALA LEUSER EXPEDITION 2007 >>> the journal (4)

by pramana

Hari ke-4, Selasa, 28 Agustus 2007
( Kayumanis 1 – Lintasan Badak)

Pagi itu matahari bersinar cerah, langsung saja semua pakaian basah, kaos kaki, dan sepatu mencari tempat masing-masing untuk dijemur. Selain itu juga diletakkan di dekat api agar cepat kering. Pak Ali memang rutin membuat perapian dari ranting-ranting kering. Dengan begitu kami jadi bisa lebih mengirit bahan bakar dengan memasak nasi di perapian ini. Alhamdulillah kondisi tim masih sehat wal afiat, hanya saja kami mengalami masalah pada peralatan. Sepatu Vjay bertambah lebar saja mangapnya. Sementara ransel carrierku, konektor di bagian backsystemnya pecah, menyebabkan carrier menjadi melorot. Akan tetapi masih bisa diakalin dengan membuat simpul sebagai penahannya. Frame tenda kami juga mulai ada yang retak-retak, langsung saja kami plester dengan lakban.
Jam 10.00 kami mulai berangkat. Jalur langsung menurun, dan kembali masuk ke hutan lumut. Setelah turun lumayan dalam, kemudian kembali naik lagi ke puncak bukit dengan vegetasi yang terbuka lagi. Hanya tanaman semak dan pohon-pohon kering. Setelah naik turun 2 bukit, tibalah di Kayumanis 2 yang juga merupakan puncak bukit. Nampak pemandangan lembah-lembah dan bukit-bukit membentang luas, hijau rapat. Menuju Kayumanis 3 jalur hampir sama dengan saat ke Kayumanis 2, naik turun bukit. Setiap turun akan ketemu dengan rimbunnya hutan lumut dan kembali naik sampai puncak bukit. Pukul 13.18 tiba di kayumanis 3 kami beristirahat, makan coklat, cracker, serta gula jawa.
Lanjut jalan lagi menuju ke Lintasan Badak. Jalur semakin sulit kali ini. Turunan yang begitu curam, hutan lumut yang lebat dan lembab dan treknyapun licin. Harus ekstra hati-hati di sini. Banyak pohon-pohon yang melintang, tak jarang kami harus merunduk, berjongkok, dan prosotan. Yang susah adalah menjaga keseimbangan dengan beban berat carrier besar di punggung ditambah daypack di depan. Banyak yang terjatuh di sini, entah itu tersandung ranting ataupun terpeleset sampai terpelanting terbawa carrier. Pakaian menjadi basah karena gesekan dengan lumut-lumut di pohon, begitupun celana juga yang berprosotan di tanah yang basah pula.
Tiga setengah jam kami berjibaku menuruni jalur ini sebelum akhirnya sampai juga di Lintasan Badak. Syukur, semua ternyata masih baik-baik saja, hanya tubuh yang lelah dan sedikit memar terkena kayu. Langsung saja tenda kami dirikan dan segera beristirahat.
Malam itu kami makan nasi uduk, sarden, ikan asin, masih ditambah oatmeal sebagai makanan pembuka. Jatah beras hari itu juga ditambah dengan yang dibawa Pak Ali. Kami memang sangat lapar. Selesai makan kami tak lupa melakukan evaluasi, ploting jalur, dan berkomunikasi dengan tim basecamp. Namun komunikasi sudah tidak dapat kami lakukan lagi karena sulitnya sinyal. Sinyal komunikasi lancar hanya sampai di Pucuk Angkasan, otomatis sejak saat itu kami terputus hubungan dengan tim basecamp. Padahal kami juga sudah menggunakan repeater dari RAPI, namun kami hanya bisa mendengar tanpa bisa dimonitor oleh yang lain.

Iklan