STAPALA Leuser XPDC 2007_the journal(1)

by pramana

Akhirnya tiba juga hari dimulainya ekspedisi pendakian Gunung Leuser. Tim atlet Stapala yang baru tiba hari Jumat lalu sudah bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ini. Tim pendaki Stapala terdiri dari 4 orang yaitu Jatmiko, Reman, Vjay, dan Gamex serta Pak Ali, penduduk setempat yang menjadi guide kami. Sabtu pagi itu cuaca mendung, gerimis rintik-rintik, namun tentu saja tak menyurutkan semangat kami untuk segera memulai ekspedisi ini yang direncanakan akan menempuh 13 hari.

Enam belas paket logistik untuk 16 hari, tenda, peralatan memasak, dan perlengkapan pendakian, dan barang-barang pribadi kami bawa. Jadilah ransel carrier kami sungguh besar dan membumbung tinggi, masih ditambah pula daypack yang akan disandang di depan.
Pukul 08.15 kami bertolak dari rumah Bang Kotar, seorang polisi hutan yang dengan baik hati mempersilakan rumahnya sebagai tempat base camp kami. Kami diantar naik pick up oleh Bang Kotar, bersama kami juga ikut Kadal & Udik (tim basecamp SLE’07), Pak Salam dan Pak Umar penduduk setempat serta Mas Febra (stapala angkatan ’91) yang datang dari Sabang bersama Bang Izan untuk ikut melepas keberangkatan tim.
Mobil kijang pick up meluncur dengan mulus di jalanan Kutapanjang menuju desa Penosan, setelah memasuki gerbang desa Penosan, jalan aspalnya mulai rusak dan semakin naik aspal pun berganti jalan berbatu. Cuaca bertambah bagus, yang tadinya sempat gerimis sekarang sudah cerah dan mentari mulai menampakkan sinarnya. Sawah-sawah hijau membentang di kanan kiri jalan, nampak pula barisan bukit-bukit Gunung Leuser yang terlihat menawan diterpa cahaya matahari pagi. Udara begitu segar aroma pegunungan membuat kami sudah tidak sabar untuk segera mendaki gunung tertinggi di Bumi Nangroe ini.
Di tengah jalan mobil tiba-tiba berhenti, kami semua turun. Kap mobil pun dibuka untuk mengetahui apa yang terjadi. Setelah dicek ternyata bensinnya sudah tiris. Pak Salam langsung melakukan kontek-kontek dengan warga di kutapanjang. Setelah beberapa menit, datanglah mobil pick up lain dan kami semua pun berganti mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan dilanjutkan, jalanan berbatu kini sudah berganti jalan tanah dan rumah –rumah penduduk sudah mulai jarang. Sawah-sawah berganti dengan kebun-kebun penduduk. Dan akhirnya sampailah di ujung jalan, mobil hanya bisa mengantar sampai di situ saja, kami semua turun. Di situ terdapat bungalow milik Pak Sabili, di sekelilingnya tampak pohon-pohon pinus, ada juga kebun tanaman-tanaman kecil, suasana begitu asri, tampak juga lembah dan bukit yang hijau di atas sana. Dari sinilah tim akan memulai berjalan untuk mendaki. Sebelum berangkat jalan, kami berkumpul untuk berdoa terlebih dahulu memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT. Mas Febra memberikan wejangan kepada tim pendaki untuk berhati-hati dan menjaga kekompakan selalu. Bahwa pulang dengan selamat adalah yang terpenting.
Setelah berpamitan dengan yang lain, yaitu Bang Kotar, Pak Salam dan beberapa penduduk setempat, kami bersiap berangkat jalan. Tak lupa berfoto dulu sebelum berangkat. Jam menunjukkan pukul 09.05, kami memulai perjalanan pendakian. Selain empat orang tim pendaki dan guide Pak Ali, ikut juga Udik, Kadal, Mas Febra, Bang Izan, dan Pak Umar menyertai kami sampai nanti di Tobacco Hut.
Medan langsung dimulai dengan menuruni bukit menuju lembahan yang cukup curam. Jalan setapak berbatu sempit dengan jurang menganga di sebelah kanan jalur. Di sinilah insiden terjadi. Dikarenakan beban yang dibawa berat dan mungkin masih dalam proses penyesuaian, Gamex terpeleset sampai jatuh ke depan. Melihat kejadian itu, Jaed bermaksud dengan sigap menolong Gamex, namun karena kurang hati-hati dan sedikit tergesa, Jaed kehilangan keseimbangan. Ransel carriernya miring, membuat tubuhnya menjadi oleng ke kanan yang mana di situ jurang. Grasak, grasak, gubrak….!!, Jaed terjungkal ke jurang. Ia terguling-guling beberapa meter sampai akhirnya terhenti, ia berhasil berpegangan pada rumput-rumput. Jaed berteriak, “Tenang,tenang, aku rak popo” (tenang,tenang, aku gak kenapa-kenapa). Sementara itu saat mulai terjungkal tadi, Pak Umar langsung mengejar jatuhnya Jaed. Jaed dibantu bangun oleh Pak Umar dan ransel carriernya dibawakan Pak Umar naik kembali ke jalur. Sesampai di atas kondisi Jaed dicek, badannya lecet-lecet, tapi katanya tidak apa-apa, masih bisa lanjut jalan.
Pendakian dilanjutkan, masih menuruni bukit sampai akhirnya bertemu sungai yang cukup lebar. Kami meniti sebuah batang kayu untuk menyeberangi sungai tersebut. Menyeberanginya cukup aman karena terdapat juga pegangan tangan di sisi kanan, tapi tetap harus menjaga keseimbangan, apalagi dengan bawaan ransel carrier yang kira-kira beratnya 30 kg itu. Setelah melewati sungai, jalan relatif datar. Pohon-pohon besar banyak dijumpai, kita sudah mulai masuk hutan.
Berjalan lagi sebentar sampailah kita di kawasan Sinebuk Green. Di sini ada 4 buah bungalow yang memang disewakan dengan tarif Rp 50.000,00 semalam, ada juga kamar mandi dan WC. Suasana di sini sungguh asri. Di sebelah kiri mengalir sungai yang jernih, ada pula taman bunga berwarna-warni, batu-batu besar, dan rimbunnya pepohonan. Suara gemuruh air, kicauan burung, dan suara binatang-binatang hutan yang lain, menjadi irama alam yang sangat menyejukkan hati.
Setelah 15 menit beristirahat sambil menikmati indahnya suasana, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini medan mulai menanjak, kami berjalan melipir bukit. Jalan tanah yang kami lalui saat itu cukup licin. Keadaan di sini memang lembab, dengan vegetasi hutan heterogen yang lebat.
Kembali kecelakaan terjadi. Saat itu jalan menurun, jalur sangat sempit, di sebelah kiri adalah jurang, kami berjalan dengan merambati tanaman di sebelah kanan. Tiba-tiba terdengar suara, “sroot..,grusak grusak grusak…”. “Berhenti ada yang jatuh….” Udik ternyata yang jatuh. Tanaman yang dijadikan pegangan oleh Udik tercabut, iapun terhempas ke bawah dengan posisi kepala di bawah. Ia terperosok dengan menghajar tanaman-tanaman semak berduri, sampai akhirnya terhenti karena tersangkut di pohon. Cukup dalam juga Udik terjatuh, sekitar 8 meteran di jurang curam yang ditumbuhi semak tersebut. Namun syukur Udik masih sehat, hanya lecet-lecet saja terkena duri-duri. Dengan dibantu Kadal, Udik berhasil naik kembali ke jalur pendakian. Perjalanan dilanjutkan kembali. Dua kejadian itu menjadikan semua untuk lebih hati-hati.
Melintasi hutan Sinebuk sungguh menyenangkan. Vegetasi hutan heterogen dengan pohon-pohon yang rindang, udara sejuk dan terlindung dari panasnya matahari. Terdengar juga suara-suara monyet, burung-burung, serangga hutan, dan kata Pak Ali, salah satu dari suara tersebut adalah suara orang utan. Namun saat itu yang kita jumpai hanyalah burung-burung dan sesekali terlihat monyet.
Selepas hutan Sinebuk kita masuk ke kawasan yang disebut Tobacco Hut. Vegetasinya sudah mulai terbuka, tidak ada lagi pohon-pohon rindang, hanya padang rumput, tanaman semak dan alang-alang.. Pemandangannya terbuka, dapat terlihat rumah-rumah penduduk di bawah sana, serta bukit dan lembah-lembah yang elok.
Tobacco Hut adalah gubug yang dibuat untuk beristirahat para petani tembakau. Namun sekarang kebun tembakaunya sudah tidak ada lagi. Kebun tembakau tersebut telah rusak saat terjadi konflik Aceh-GAM beberapa tahun lalu. Dahulu ada beberapa gubug, namun kini hanya tersisa dua buah saja yang masih berdiri, sementara yang lain telah habis dibakar. Gubug yang terbuat dari kayu dan bambu tersebut berbentuk seperti rumah panggung. Terdapat pula sumber air mengalir sekitar 20 meter dari situ. Di sekitar situ juga nampak kerbau-kerbau liar yang cukup banyak. Banyak pula tanaman-tanaman penduduk seperti alpokat, jeruk lemon, bahkan kita dapatkan jeruk yang seperti jeruk Bali.
Di gubug tersebut kami beristirahat selama sekitar satu setengah jam, kita makan siang, sholat. Dan di sinilah rombongan berpisah. Tim pengantar hanya sampai sini, lalu akan kembali lagi ke basecamp. Pukul 14.10 tim pendaki pun melanjutkan perjalanan. Baru berjalan beberapa meter hujan turun namun kami tetap lanjut jalan. Tim berjalan melambat menembus hujan, jalur juga menanjak sampai kami menemui gubug lagi, masih di kawasan Tobacco Hut juga. Kami beristirahat dan berteduh. Pak Ali menyarankan tim untuk ngecamp di sini saja karena diperkirakan akan terlalu malam untuk bisa sampai ke Simpang Angkasan dengan kondisi seperti ini. Selain itu juga tidak ada tempat camp lagi diantara gubug ini sampai Simpang Angkasan. Akhirnya diputuskan untuk ngecamp di sini walaupun dijadwalkan pada hari pertama ini kita akan ngecamp di Simpang Angkasan. Gubug ini hampir sama dengan gubug yang di bawah tempat kita istirahat makan siang tadi, hanya saja lebih kecil dan sumber airnya hanyalah air yang menggenang. Kondisinya juga tidak sebagus gubug yang di bawah dimana ruangan yang berada di atas, lantai dan dindingnya sudah pada bolong, sangat riskan untuk dijadikan tempat kami berlima tidur. Kamipun mendirikan satu buah tenda saja kemudian langsung membuat api untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk memasak nasi. Jarak gubug ini dengan gubug yang di bawah tadi tidaklah terlalu jauh, kira-kira 20 menit. Gubug ini memang sering digunakan Pak Ali untuk beristirahat saat menggembalakan lembunya di sini. Pak Ali mengambil periuknya yang ditinggalkan di sini untuk memasak nasi.

bisa dibaca disini juga
www.stapala.com

ditulis oleh tim pendaki reman 793/SPA/2006

Iklan