aku berpikir maka aku ingin tidak berpikir

by pramana

Pagi itu cukup cerah. Bahkan bisa dibilang sangat cerah bila dibandingkan dengan pagi sebelumnya. Seperti biasa, begitu tiba di kantor, saia langsung menuju ke warung kopi langganan, di pinggir jalan. Sarapan hari itu, masih sama seperti hari-hari biasanya, segelas kopi dan sebatang rokok, sumber energi harian yang sudah terbukti kemanjurannya. Manjur merusak tubuh. Kopi saia minum, rokok saia hisap, mak nyuss…uenak tenan..

Seperti pagi-pagi yang lalu, pagi itu saia lalui dalam sebuah renungan, atau lebih tepatnya lamunan. Lamunan yang kadang tidak fokus, gonta-ganti obyek yang dilamunkan. Sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok dalam-dalam, otak saia mulai menjelajah kesana dan kemari, mulai membayangkan banyak hal, mulai menanyakan tentang segala sesuatu. Saia memang bukan manusia yang mampu fokus pada apapun,dan selalu mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi pada sebuah hal. Bahkan dalam melamun pun saia tidak fokus. Mungkin, dalam menyusun tulisan ini, saia juga tidak fokus..

Adalah Tuhan yang pertama kali mengisi otak saia waktu itu. Sebuah pertanyaan kembali muncul di otak, “Sejak kapan Tuhan itu ada?”. Pertanyaan konyol mungkin, pertanyaan yang sulit dijawab lewat akal terbatas manusia. Namun otak saia terus bertanya, dan bodohnya, hal itu membuat saia membayangkan wujud Tuhan dan KeberadaaNya. Saia jadi pusing, sangat pusing malah. Otak ini seakan terus menantang saia. Pikiran saia mulai melayang, berkhayal…

 

ah..

efek insomnia..

kadang saia sangat takut untuk mikir..

Iklan