Memandang Jakarta Saat Hujan Tiba

1 09 2008

Hujan itu meredakan suara.

Semua kejadian seperti berlangsung dalam diam.

Mereka layaknya menari, memainkan gerakan, diiringi tepuk tangan petir.

Nyata, seperti biasa.

 

 

Ah.

Lagi lagi saia jatuh cinta pada hujan.

Setuju dengan seorang teman yang mengagumi baunya.

Sependapat dengan seorang lain yang selalu menanti  awan gelapnya.

 

 

Alam memainkan nadanya.

Bersatu gemuruh petir, alunan angin, dan petik air.

Matahari, bulan, bintang menyaksikan dari atas, tenang dalam barisan langit, menunduk di angkuh cahaya.

 

 

Saia berusaha sombong, menyatu jadi melodi alam.

Memacu roda diantara angin.

Sedikit dihentakkan petir, pasrah dalam permainan air.

Ah.

Saia tidak akan mengakui telah dikalahkan.

Biar dinginnya mulai menyentuh tulang, dan nafas mulai diuraikan satu satu.

Nyatanya saia belum tumbang, dan roda ini masih berputar seperti biasanya.





memandang jalanan jakarta di suatu sore

28 08 2008

 

 

Bertemu seorang pria paruh baya yang sedang menarik gerobak kayu dengan segala tenaga.

Dari dalam gerobak, terlihat sekilas, seorang ibu dan anaknya yang tidak lebih dari balita. Pria itu mungkin suaminya, ayah sang anak.

Saya memacu motor pelan saja di belakang mereka.

Seperti sayup terdengar lelaki itu memainkan siul, beradu dengan deru klakson.

Sang ibu bermain sayang dengan anaknya, menggoyangkan jari-jarinya sambil tersenyum mesra.

 

Pemandangan yang indah sangat.

 

 

Endji787.06  hidup itu indah





tanda tanya besar pertama

28 08 2008

ada polisi ada macet?

atau

ada macet ada polisi?

 

 

ah. hadirnya tidak lebih dari suara peluit saja.

 

endji787.06 dari jalanan (belantara) jakarta





Memandang jalanan jakarta

28 08 2008

 

 

Memutar roda di jalanan jakarta, entah dengan sepeda, entah motor.

Jakarta  tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu.

Masih dipenuhi bunyi klakson,

Hingar bingar knalpot racing,

Motor motor yang menjajah trotoar,

Laju kencang mobil mewah,

Kopaja sakit-sakitan, batuknya asap hitam,

Bajaj oranye dengan penuh percaya diri memotong jalur,

Lampu lalulintas yang tidak punya fungsi,

Aspal jalanan yang tidak sesuai perhitungan,

Jutaan polisi tidur,

Koruptor koruptor jalanan.

 

Kota ini seperti dibangun dengan egoisme.

 

 

 

Endji787.06  siapa suruh datang jakarta?





simbol

13 08 2008

karena agama itu ditunjukkan dari hati.

bukan lewat simbol-simbol.

bukan lewat bulan dan bintang,

atau kayu salib,

atau jubah merah,

atau surban,

atau simbol lainnya.

 

 

 

 

endji787.06





muntah cahaya

13 08 2008

 

merindukan cahayaMu.

 

 

 

endji787.06





inti

12 08 2008

sepertinya semua masalah berawal

dari cara menyikapi perbedaan.