idul fitri lagi

8 10 2008

selamat lebaran.

entah lebaran yang keberapa buat saya.

sama saja rasanya.

masih berasa kalah.

entah kenapa.

iri saya pada orang-orang,

ingin menang juga.

tapi belum bisa.

 

aduh Tuhan,

maafkan hambaMu ini ya..

semoga Engkau mau berbaik hati memberi saya kesempatan sekali lagi.

 

 

endji787.06 mohon maaf lahir dan batin





mencoba narsis

8 09 2008

narsis itu manusiawi.

D60 gaya Holga.

 

 

endji787.06  diantara cermin





Selamat Datang Damai

1 09 2008

Selamat ber Ramadhan.

Untuk yang berpuasa dan tidak berpuasa.

Selamat menikmati damainya.

 

 

endji787.06





Wall E

1 09 2008

Jatuh cinta pada Wall E.

sudah lama tidak mengagumi sebuah film.

 

Wall E, kisah sederhana

tentang cinta,

tentang bumi,

tentang alam,

tentang tingkah laku manusia,

tentang kesetiaan seorang teman,

tentang harapan,

tentang pesimisme,

pembelotan,

kerjasama,

perjuangan,

totalitas pada pekerjaan, sekecil apapun,

loyalitas,

teknologi..

 

diramu jadi satu cerita yang menggetarkan hati.

Berlebihan sepertinya,

tapi ya begitulah kesan saia.

 

 

endji787.06.





Memandang Jakarta Saat Hujan Tiba

1 09 2008

Hujan itu meredakan suara.

Semua kejadian seperti berlangsung dalam diam.

Mereka layaknya menari, memainkan gerakan, diiringi tepuk tangan petir.

Nyata, seperti biasa.

 

 

Ah.

Lagi lagi saia jatuh cinta pada hujan.

Setuju dengan seorang teman yang mengagumi baunya.

Sependapat dengan seorang lain yang selalu menanti  awan gelapnya.

 

 

Alam memainkan nadanya.

Bersatu gemuruh petir, alunan angin, dan petik air.

Matahari, bulan, bintang menyaksikan dari atas, tenang dalam barisan langit, menunduk di angkuh cahaya.

 

 

Saia berusaha sombong, menyatu jadi melodi alam.

Memacu roda diantara angin.

Sedikit dihentakkan petir, pasrah dalam permainan air.

Ah.

Saia tidak akan mengakui telah dikalahkan.

Biar dinginnya mulai menyentuh tulang, dan nafas mulai diuraikan satu satu.

Nyatanya saia belum tumbang, dan roda ini masih berputar seperti biasanya.





memandang jalanan jakarta di suatu sore

28 08 2008

 

 

Bertemu seorang pria paruh baya yang sedang menarik gerobak kayu dengan segala tenaga.

Dari dalam gerobak, terlihat sekilas, seorang ibu dan anaknya yang tidak lebih dari balita. Pria itu mungkin suaminya, ayah sang anak.

Saya memacu motor pelan saja di belakang mereka.

Seperti sayup terdengar lelaki itu memainkan siul, beradu dengan deru klakson.

Sang ibu bermain sayang dengan anaknya, menggoyangkan jari-jarinya sambil tersenyum mesra.

 

Pemandangan yang indah sangat.

 

 

Endji787.06  hidup itu indah





tanda tanya besar pertama

28 08 2008

ada polisi ada macet?

atau

ada macet ada polisi?

 

 

ah. hadirnya tidak lebih dari suara peluit saja.

 

endji787.06 dari jalanan (belantara) jakarta