tanda tanya besar pertama

28 08 2008

ada polisi ada macet?

atau

ada macet ada polisi?

 

 

ah. hadirnya tidak lebih dari suara peluit saja.

 

endji787.06 dari jalanan (belantara) jakarta





ki joko wasis

27 06 2008

“Perjalanan ini adalah realisasi sebagian janji saya sewaktu SMA, yang ingin keliling Indonesia dengan jalan kaki,” kata pria berambut dan berkumis panjang itu.

 

ki joko wasis memang luar biasa..

berjalan kaki dari jogja ke jakarta cuma buat melukis.

melukis di seberang bunderan HI.

sudah sejak hari senin (23 juni 2008) kemarin saia bertemu dengannya.

beliau terus melukis,

pagi.. sore..

saat saia lewat buat berangkat kerja.

saat saia lewat buat pulang kerja.

 

dia melukis tentang pasukan berkuda pangeran jayakarta (fatahillah),

tentang perjuangan mereka bertempur melawan armada laut portugis di pelabuhan sunda kelapa,

481 tahun lalu.

cikal bakal jakarta.

 

sebuah kado ulang tahun yang manis untuk ibu kota.

 

 

ki joko wasis menempuh jarak lebih dari 750 km, dari jogja menuju jakarta. beliau terinspirasi oleh kisah heroik Sultan Agung dan pasukannya, ketika menyerang batavia dari mataram. selama perjalanan yang memakan waktu lebih dari sebulan itu, ki joko wasis berhasil menyelesaikan 55 lukisan. semua lukisan karyanya dibuat dengan tanpa kuas, tapi dengan jari-jarinya, sebagai wujud kebebasan tanpa batas dalam berekspresi dan menuangkan inspirasi.

 

endji787.06  hidup adalah perjuangan mewujudkan mimpi.





tidak berjudul saja lah…

24 06 2008

setiap perjalanan mempunyai ajarannya masing-masing.

perjalanan-perjalan yang selalu memukauku.

dan sekarang saia rindu.

rindu menyusuri jalan-jalan tanah di desa,

rindu merokok di saung tengah sawah,

rindu bermain air di kali,

rindu berjalan di atas batuan pegunungan,

rindu pada angin dingin di puncak gunung.

 

 

 

apa karena itu saia bersepeda y?

sebenarnya,

bukan untuk mengurangi polusi,

atau sok peduli pada negara dengan menghemat energi,

atau biar badan bisa lebih sehat lagi.

saia hanya ingin menikmati jakarta dengan cara yang berbeda,

melalui semua rutinitas ini dengan cara yang tidak biasa.

 

 

 

endji787.06 saia bilang pada seorang teman, hidup yang lebih hidup itu harus dicari, bukan ditunggu.

 

 

 





STAPALA LEUSER EXPEDITION 2007 >>> the journal (8)

26 03 2008

Hari ke-8, Sabtu, 1 September 2007
( Camp “Ujan” – Bipak Batu )

Jam 6 pagi kami sudah bangun, melongok ke luar tenda, pemandangannya indah sekali. Namun sayang tak bertahan lama, kabut mulai datang dan menutupinya menjadi serba putih. Kebiasaan kami di pagi hari yaitu buang air besar. Bergantian kami mencari tempat yang nyaman untuk melakukan ritual penting tersebut. Mandipun praktis tidak kami lakukan, paling hanya mengelap badan saja. Sedangkan gosok gigi pastilah, namun tidak menggunakan pasta gigi. Kebersihan badan harus dijaga agar tubuh tidak gatal-gatal yang nantinya malah bisa menghambat perjalanan.
Kami mengatur packing kembali, barang-barang yang sekiranya tidak dibutuhkan lagi kami tinggal di sini. Pakaian-pakaian basah kami tinggal, kami memutuskan saat jalan langsung pakai raincoat saja. Tabung-tabung gas kosong, batu baterai bekas, pasak tenda yang terlalu banyak, dan barang-barang rusak dimasukkan polybag untuk kemudian ditinggal di sini. Lumayan untuk meringankan beban.
Kondisi Pak Ali sudah kembali sehat, anggota tim yang lain juga sehat. Pukul 09.40 kami memulai pendakian hari ke-8. Kami berjalan dengan semangat melewati padang rumput yang relatif menurun terus. Kalau jalurnya begini kita pasti lebih cepat jalannya. Kemudian padang rumput berganti dengan semak perdu. Jalurnya naik turun bukit, entah berapa bukit yang sudah kami daki, kami sampai malas menghitungnya. Setelah melintasi semak perdu, kembali masuk hutan lumut. Lumutnya yang tebal akan membuat pakaian basah, oleh karena itu memakai raincoat adalah pilihan yang tepat.
Selepas hutan lumut, jalur kini melewati semak perdu lagi. Tumbuhan-tumbuhan semak yang tingginya sekitar sebadan itu ranting-rantingnya menjorok ke jalur. Badanpun harus disiapkan untuk menerjangnya. Yang berjalan di belakangnya juga harus hati-hati menjaga jarak jangan terlalu dekat jika tidak ingin tersabet ranting.
Pukul 11.49 kami beristirahat, si Jaed sudah tak tahan lagi untuk buang hajat. Tadi pagi sepertinya ia memang belum sempat untuk setor. Di jalan tadi, kami menemukan kotoran binatang yang mirip dengan yang kami jumpai sebelumnya. Jejak kambing hutan juga kami temui kembali. Saat itu kami berada di puncak bukit dengan vegetasi padang rumput. Keadaannya hampir sama dengan tempat penemuan sebelumnya, berarti memang di daerah sinilah habitat mereka. Selain itu kami juga melihat bunga-bunga berwarna-warni. Ada yang merah, putih dan kuning. Kami tidak tahu jenis apa itu. Kata Pak Ali bunga tersebut namanya adalah bunga ‘geseng’.
Setelah Jaed selesai, kamipun melanjutkan perjalanan lagi. Jalur masih naik turun bukit dengan vegetasi padang rumput yang kemudian berganti semak perdu lagi. Hari itu cuaca cerah, namun kabutnya cukup tebal. Jam setengah satu kami tiba di Bipak Kaleng, setelah terakhir tadi menuruni turunan panjang dimana sebelah kanan adalah jurang. Kami tak bisa melihat ke bawah jurang tersebut karena kabut sudah menutupinya. Sedangkan di sebelah kiri jalur adalah lereng-lereng landai yang ditumbuhi padang rumput.
Di Bipak Kaleng kami beristirahat, makan biscuit dan coklat. Untuk makan siang memang kami siapkan snack saja agar tidak terlalu lama. Dua puluh menit beristirahat lalu kami lanjut jalan lagi. Treknya naik sebentar kemudian masuk hutan lumut lagi. Di balik treknya yang susah, hutan lumut memiliki nuansa tersendiri yang menyejukkan. Suasananya yang basah, lembab, serba hijau, bisa membuat kita merenungi betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Hutan lumut lebat seperti ini mungkin yang menjadi ciri Gunung Leuser, sulit menemukannya di gunung-gunung lain.
Trek di hutan lumut juga naik turun, cukup curam juga. Setiap naik tinggi sampai puncak bukit, terbukalah vegetasinya. Saat turun kembali masuk lumut lagi. Sempat juga terlihat burung berwarna hitam meloncat dari dahan ke dahan di hutan itu. Selepas keluar hutan lumut, kini menyusuri padang rumput. Gerimis rintik-rintik menyertai kami, kabutpun bertambah tebal, membuat jarak pandang menyempit. Jalur lumayan landai dan vegetasi terbuka, kemudian turun sebentar baru sampailah di Bipak Batu. Pukul 16.20 kami sampai di Bipak Batu, hujan sudah mereda. Pak Ali telah nampak sibuk mencari kayu-kayu untuk membuat api. Kulit kayunya yang basah dikelupas terlebih dahulu. Pak Ali juga membawa kayu tusam, sedikit saja dari cacahan kayu tusam sebagai bahan bakar untuk menyulut api.
Meski hujan telah reda, anginnya sungguh kencang. Flysheet kami dibuat terbang-terbang, tendapun juga bergoyang-goyang. Di sini daerahnya memang terbuka, tidak ada pelindung dari terpaan angin. Suara angin terdengar menderu-deru, kabut putih menutupi semua. Kami hanya di dalam tenda, ngobrol-ngorol, makan, dan berharap kondisi esok hari akan lebih baik.





STAPALA LEUSER EXPEDITION 2007 >>> the journal (6)

26 03 2008

Hari ke-6, Kamis, 30 Austus 2007
( Blang Beke – Kolam Badak )

Blangbeke merupakan padang rumput berbatu yang luas. Blang adalah bahasa Gayo yang artinya padang rumput, sedangkan beke adalah nama sejenis tumbuhan, namun kata Pak Ali tumbuhan itu kini sudah tidak ada. Tempat ngecampnya berada di tengah jalur dan bisa untuk beberapa tenda. Sumber air berada di sebelah kiri sekitar 10 m dari jalur. Air genangan di sini sangatlah bersih. Berbeda sekali dengan air di sumber-sumber air sebelumnya yang warnanya agak kecoklatan.
Pagi itu cuaca di luar tenda sudah berkabut. Setelah sarapan dengan nasi kuning, korned,abon, ditambah susu dan teh hangat, kami segera packing dan bersiap berangkat. Pukul 09.20 kami mulai pendakian hari ini. Kami begitu bersemangat melintasi padang rumput itu, pemandangan terbuka ke segala arah. Jalur pertama datar dulu baru kemudian mulai turun ke lembah dan menyeberangi sungai kecil. Kami naik turun bukit dan total menyeberangi 2 sungai kecil, satu sungai sedang yang lebarnya 4m sebelum bertemu dengan Sungai Alas. Penyeberangan basahpun dilakukan. Menyeberangi Sungai Alas yang lebarnya sekitar 10 m. Saat itu tinggi air mencapai lutut, kamipun berjalan pelan-pelan agar tidak tergelincir batu. Setelah menyeberang dan kemudian naik lagi, ada tempat camp yang cukup luas di sebelah kiri jalur. Di sini kami istirahat sambil mengeringkan sepatu dan kaos kaki yang basah kuyup.
Perjalanan dilanjutkan dengan masih meyusuri padang rumput. Jalan relatif terus menanjak hingga kemudian vegetasi berganti menjadi tanaman semak perdu dan pohon-pohon kecil. Kita harus menerjang ranting-ranting di kanan kiri jalur yang begitu rapatnya. Berjalanpun dengan posisi tangan melindungi muka agar tak terkena ranting.
Di tengah perjalanan menuju Kolam Badak, kami bertemu dengan anak Palaba-Jakarta. Kamipun berhenti dan mengobrol banyak, terutama tentang Leuser. Hari itu adalah hari ke-10 mereka. Hari ke-8 mereka berhasil mencapai Puncak Loser namun mereka langsung turun, tidak lanjut ke Puncak Leuser. Mereka memang merencanakan 12 hari pendakian. Kira-kira sejam kami mengobrol, akhirnya kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dan hujan pun turun, kami langsung mengenakan raincoat dan terus melanjutkan jalan. Perlahan tapi pasti, tibalah kami di Kolam Badak dan dengan segera mendirikan tenda. Kondisi kontur di sini agak miring, kamipun membuat selokan agar air tidak mengalir menggenangi tenda. Sumber airnya berupa kolam besar yang banyak ditumbuhi lumut. Konon di sini dulu adalah tempat berendamnya badak.





Koruptor

6 03 2008

saia menikmati uang rakyat dengan cara yang tidak jelas.

saia tidur nyenyak di hotel,

sementara banyak manusia yang terlunta-lunta di bawah jembatan,

di pinggir-pinggir rel kereta api.

saia makan enak di hotel,

saat seorang ibu hamil dan seorang anaknya meninggal karena lapar.

saia ini abdi atau bandit negara?

saia ini pelayan rakyat atau perampok?

koruptor





STAPALA Leuser XPDC 2007_the journal(1)

14 02 2008
Akhirnya tiba juga hari dimulainya ekspedisi pendakian Gunung Leuser. Tim atlet Stapala yang baru tiba hari Jumat lalu sudah bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ini. Tim pendaki Stapala terdiri dari 4 orang yaitu Jatmiko, Reman, Vjay, dan Gamex serta Pak Ali, penduduk setempat yang menjadi guide kami. Sabtu pagi itu cuaca mendung, gerimis rintik-rintik, namun tentu saja tak menyurutkan semangat kami untuk segera memulai ekspedisi ini yang direncanakan akan menempuh 13 hari.

Enam belas paket logistik untuk 16 hari, tenda, peralatan memasak, dan perlengkapan pendakian, dan barang-barang pribadi kami bawa. Jadilah ransel carrier kami sungguh besar dan membumbung tinggi, masih ditambah pula daypack yang akan disandang di depan.
Pukul 08.15 kami bertolak dari rumah Bang Kotar, seorang polisi hutan yang dengan baik hati mempersilakan rumahnya sebagai tempat base camp kami. Kami diantar naik pick up oleh Bang Kotar, bersama kami juga ikut Kadal & Udik (tim basecamp SLE’07), Pak Salam dan Pak Umar penduduk setempat serta Mas Febra (stapala angkatan ’91) yang datang dari Sabang bersama Bang Izan untuk ikut melepas keberangkatan tim.
Mobil kijang pick up meluncur dengan mulus di jalanan Kutapanjang menuju desa Penosan, setelah memasuki gerbang desa Penosan, jalan aspalnya mulai rusak dan semakin naik aspal pun berganti jalan berbatu. Cuaca bertambah bagus, yang tadinya sempat gerimis sekarang sudah cerah dan mentari mulai menampakkan sinarnya. Sawah-sawah hijau membentang di kanan kiri jalan, nampak pula barisan bukit-bukit Gunung Leuser yang terlihat menawan diterpa cahaya matahari pagi. Udara begitu segar aroma pegunungan membuat kami sudah tidak sabar untuk segera mendaki gunung tertinggi di Bumi Nangroe ini.
Di tengah jalan mobil tiba-tiba berhenti, kami semua turun. Kap mobil pun dibuka untuk mengetahui apa yang terjadi. Setelah dicek ternyata bensinnya sudah tiris. Pak Salam langsung melakukan kontek-kontek dengan warga di kutapanjang. Setelah beberapa menit, datanglah mobil pick up lain dan kami semua pun berganti mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan dilanjutkan, jalanan berbatu kini sudah berganti jalan tanah dan rumah –rumah penduduk sudah mulai jarang. Sawah-sawah berganti dengan kebun-kebun penduduk. Dan akhirnya sampailah di ujung jalan, mobil hanya bisa mengantar sampai di situ saja, kami semua turun. Di situ terdapat bungalow milik Pak Sabili, di sekelilingnya tampak pohon-pohon pinus, ada juga kebun tanaman-tanaman kecil, suasana begitu asri, tampak juga lembah dan bukit yang hijau di atas sana. Dari sinilah tim akan memulai berjalan untuk mendaki. Sebelum berangkat jalan, kami berkumpul untuk berdoa terlebih dahulu memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT. Mas Febra memberikan wejangan kepada tim pendaki untuk berhati-hati dan menjaga kekompakan selalu. Bahwa pulang dengan selamat adalah yang terpenting.
Setelah berpamitan dengan yang lain, yaitu Bang Kotar, Pak Salam dan beberapa penduduk setempat, kami bersiap berangkat jalan. Tak lupa berfoto dulu sebelum berangkat. Jam menunjukkan pukul 09.05, kami memulai perjalanan pendakian. Selain empat orang tim pendaki dan guide Pak Ali, ikut juga Udik, Kadal, Mas Febra, Bang Izan, dan Pak Umar menyertai kami sampai nanti di Tobacco Hut.
Medan langsung dimulai dengan menuruni bukit menuju lembahan yang cukup curam. Jalan setapak berbatu sempit dengan jurang menganga di sebelah kanan jalur. Di sinilah insiden terjadi. Dikarenakan beban yang dibawa berat dan mungkin masih dalam proses penyesuaian, Gamex terpeleset sampai jatuh ke depan. Melihat kejadian itu, Jaed bermaksud dengan sigap menolong Gamex, namun karena kurang hati-hati dan sedikit tergesa, Jaed kehilangan keseimbangan. Ransel carriernya miring, membuat tubuhnya menjadi oleng ke kanan yang mana di situ jurang. Grasak, grasak, gubrak….!!, Jaed terjungkal ke jurang. Ia terguling-guling beberapa meter sampai akhirnya terhenti, ia berhasil berpegangan pada rumput-rumput. Jaed berteriak, “Tenang,tenang, aku rak popo” (tenang,tenang, aku gak kenapa-kenapa). Sementara itu saat mulai terjungkal tadi, Pak Umar langsung mengejar jatuhnya Jaed. Jaed dibantu bangun oleh Pak Umar dan ransel carriernya dibawakan Pak Umar naik kembali ke jalur. Sesampai di atas kondisi Jaed dicek, badannya lecet-lecet, tapi katanya tidak apa-apa, masih bisa lanjut jalan.
Pendakian dilanjutkan, masih menuruni bukit sampai akhirnya bertemu sungai yang cukup lebar. Kami meniti sebuah batang kayu untuk menyeberangi sungai tersebut. Menyeberanginya cukup aman karena terdapat juga pegangan tangan di sisi kanan, tapi tetap harus menjaga keseimbangan, apalagi dengan bawaan ransel carrier yang kira-kira beratnya 30 kg itu. Setelah melewati sungai, jalan relatif datar. Pohon-pohon besar banyak dijumpai, kita sudah mulai masuk hutan.
Berjalan lagi sebentar sampailah kita di kawasan Sinebuk Green. Di sini ada 4 buah bungalow yang memang disewakan dengan tarif Rp 50.000,00 semalam, ada juga kamar mandi dan WC. Suasana di sini sungguh asri. Di sebelah kiri mengalir sungai yang jernih, ada pula taman bunga berwarna-warni, batu-batu besar, dan rimbunnya pepohonan. Suara gemuruh air, kicauan burung, dan suara binatang-binatang hutan yang lain, menjadi irama alam yang sangat menyejukkan hati.
Setelah 15 menit beristirahat sambil menikmati indahnya suasana, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini medan mulai menanjak, kami berjalan melipir bukit. Jalan tanah yang kami lalui saat itu cukup licin. Keadaan di sini memang lembab, dengan vegetasi hutan heterogen yang lebat.
Kembali kecelakaan terjadi. Saat itu jalan menurun, jalur sangat sempit, di sebelah kiri adalah jurang, kami berjalan dengan merambati tanaman di sebelah kanan. Tiba-tiba terdengar suara, “sroot..,grusak grusak grusak…”. “Berhenti ada yang jatuh….” Udik ternyata yang jatuh. Tanaman yang dijadikan pegangan oleh Udik tercabut, iapun terhempas ke bawah dengan posisi kepala di bawah. Ia terperosok dengan menghajar tanaman-tanaman semak berduri, sampai akhirnya terhenti karena tersangkut di pohon. Cukup dalam juga Udik terjatuh, sekitar 8 meteran di jurang curam yang ditumbuhi semak tersebut. Namun syukur Udik masih sehat, hanya lecet-lecet saja terkena duri-duri. Dengan dibantu Kadal, Udik berhasil naik kembali ke jalur pendakian. Perjalanan dilanjutkan kembali. Dua kejadian itu menjadikan semua untuk lebih hati-hati.
Melintasi hutan Sinebuk sungguh menyenangkan. Vegetasi hutan heterogen dengan pohon-pohon yang rindang, udara sejuk dan terlindung dari panasnya matahari. Terdengar juga suara-suara monyet, burung-burung, serangga hutan, dan kata Pak Ali, salah satu dari suara tersebut adalah suara orang utan. Namun saat itu yang kita jumpai hanyalah burung-burung dan sesekali terlihat monyet.
Selepas hutan Sinebuk kita masuk ke kawasan yang disebut Tobacco Hut. Vegetasinya sudah mulai terbuka, tidak ada lagi pohon-pohon rindang, hanya padang rumput, tanaman semak dan alang-alang.. Pemandangannya terbuka, dapat terlihat rumah-rumah penduduk di bawah sana, serta bukit dan lembah-lembah yang elok.
Tobacco Hut adalah gubug yang dibuat untuk beristirahat para petani tembakau. Namun sekarang kebun tembakaunya sudah tidak ada lagi. Kebun tembakau tersebut telah rusak saat terjadi konflik Aceh-GAM beberapa tahun lalu. Dahulu ada beberapa gubug, namun kini hanya tersisa dua buah saja yang masih berdiri, sementara yang lain telah habis dibakar. Gubug yang terbuat dari kayu dan bambu tersebut berbentuk seperti rumah panggung. Terdapat pula sumber air mengalir sekitar 20 meter dari situ. Di sekitar situ juga nampak kerbau-kerbau liar yang cukup banyak. Banyak pula tanaman-tanaman penduduk seperti alpokat, jeruk lemon, bahkan kita dapatkan jeruk yang seperti jeruk Bali.
Di gubug tersebut kami beristirahat selama sekitar satu setengah jam, kita makan siang, sholat. Dan di sinilah rombongan berpisah. Tim pengantar hanya sampai sini, lalu akan kembali lagi ke basecamp. Pukul 14.10 tim pendaki pun melanjutkan perjalanan. Baru berjalan beberapa meter hujan turun namun kami tetap lanjut jalan. Tim berjalan melambat menembus hujan, jalur juga menanjak sampai kami menemui gubug lagi, masih di kawasan Tobacco Hut juga. Kami beristirahat dan berteduh. Pak Ali menyarankan tim untuk ngecamp di sini saja karena diperkirakan akan terlalu malam untuk bisa sampai ke Simpang Angkasan dengan kondisi seperti ini. Selain itu juga tidak ada tempat camp lagi diantara gubug ini sampai Simpang Angkasan. Akhirnya diputuskan untuk ngecamp di sini walaupun dijadwalkan pada hari pertama ini kita akan ngecamp di Simpang Angkasan. Gubug ini hampir sama dengan gubug yang di bawah tempat kita istirahat makan siang tadi, hanya saja lebih kecil dan sumber airnya hanyalah air yang menggenang. Kondisinya juga tidak sebagus gubug yang di bawah dimana ruangan yang berada di atas, lantai dan dindingnya sudah pada bolong, sangat riskan untuk dijadikan tempat kami berlima tidur. Kamipun mendirikan satu buah tenda saja kemudian langsung membuat api untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk memasak nasi. Jarak gubug ini dengan gubug yang di bawah tadi tidaklah terlalu jauh, kira-kira 20 menit. Gubug ini memang sering digunakan Pak Ali untuk beristirahat saat menggembalakan lembunya di sini. Pak Ali mengambil periuknya yang ditinggalkan di sini untuk memasak nasi.

bisa dibaca disini juga
www.stapala.com

ditulis oleh tim pendaki reman 793/SPA/2006