Sungguh, Satu Bibit Saja…

5 06 2008
 By Terbangkelangit http://terbangkelan git.multiply. com/journal/ item/343/ GLOBALWARMING_ Sungguh_Satu_ Bibit_Saja. .
“Tanam pohon sebanyak-banyaknya. Jangan pernah membiarkan halaman di rumah Anda kosong. Selain meneduhkan rumah, pohon juga mengurangi kadar karbon monoksida.”
-John Farey-
Presiden and CEO National Geographic Society
Andai kita mengetikkan kata Global Warming di mesin pencari terbesar dunia yang didirikan pria umur 21 tahun, Google, muncul jumlah yang fantastis: 65.700.000 entry. Bedakan dengan kata Islam yang berjumlah: 118.000.000 entry. Bukan hendak membandingkan, paling tidak jumlah entry Global Warming di Google yang mencapai kira-kira 50% dari entry Islam membuktikan satu hal: Global Warming telah menjadi salah satu isu penting dunia.
Telah begitu banyak perjanjian yang diadakan dan telah begitu banyak peringatan dari para ilmuwan tentang Global Warming ini. Katakanlah Protokol Kyoto dan Pertemuan Bali beberapa waktu lalu yang mensyaratkan Negara-negara maju harus mengurangi emisi karbonnya secara signifikan, juga prediksi mengerikan dari Prof. Michael Kucera, guru besar mikro-paleontologi di Universitas Tübingen Jerman:
“Jika berbagai usaha untuk mencegah melumernya seluruh lapisan es abadi di Bumi tidak berhasil, muncul skenario horor dari zaman musnahnya Dinosaurus sekitar 100 juta tahun lalu. Di zaman itu muka air laut sekitar 70 meter lebih tinggi dibanding muka air laut saat ini.”
Dari poin-poin di atas, orang yang masih waras pasti akan sadar bahwa situasi dunia begitu kritis.
 
Sangat Mendesak Untuk Ditanggulangi
Rasanya penyebab Global Warming tidak perlu diuraikan panjang lebar disini, karena pasti sudah diketahui secara luas. Namun intinya, Global Warming terjadi ketika Karbondioksida (CO2)dan gas-gas karbon lainnya bersekongkol untuk mengikis Ozon (O3) dan menutup atmosfer sehingga sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian besarnya tidak dapat lagi dipantulkan ke luar angkasa. Ini berbahaya bagi bumi, karena sinar matahari yang terperangkap akan membuat suhu bumi perlahan meningkat. Pun menurut riset, tahun 2007 adalah tahun terpanas selama dekade-dekade terakhir.
Baru-baru ini di Jerman, telah terbit satu buku “mengerikan” yang langsung menjadi best-seller disana. Ditulis oleh Prof. Harald Welzer, doktor Psikologi Sosial dari universitas Witten-Herdecke, Jerman. Judulnya: Klima Kriege (Perang Iklim).
Ia meramalkan di abad 21 ini akan lebih banyak terjadi perang karena memperebutkan makanan dan minuman yang produksinya menurun drastis akibat kacaunya musim. Sebenarnya prediksi Prof.Welzer ini mulai menjadi nyata. Tentu kita ingat dengan tragedi badai Katrina yang memporakporandakan Amerika Serikat. Dalam hitungan detik, kota menjadi chaos. Pemerintah yang dituding lambat memberi bantuan mengakibatkan penjarahan dan pembunuhan segera terjadi dimana-mana demi alasan mempertahankan hidup.
Begitu pula yang terjadi di Haiti. Pagi tenang itu berubah menjadi mencekam ketika rakyat yang kelaparan menyerang istana kepresidenan di ibukota Port-au-Prince. Pasukan PBB pun hingga terpaksa diturunkan untuk mengamankan. Sungguh mengenaskan jika membaca penggambaran yang dilakukan wartawan setempat: sepanjang kota, dari penjara Fort Dimanche hingga kompleks perumahan mewah, tempat sampah begitu bersih hingga anjing pun tak kebagian sepotong tulang. Bagaimana dengan Indonesia? Gejala ke arah situ mulai terasa dengan naiknya (lagi) harga BBM.
Global Warming sungguh isu yang sangat mendesak. Bagaimana menanggulanginya? Mari kita duduk bersama dan pikirkan bersama.
 
Jawabannya: Penghijauan!
Seperti yang telah diurai diatas, sebenarnya sudah begitu banyak pihak yang memikirkan solusi untuk mengurangi dampak pemanasan global. Mulai dari artikel yang tersebar di internet, surat kabar, sampai iklan di TV, hingga program-program yang dilakukan Greenpeace, WWF, Walhi, juga perjanjian tingkat Internasional yang ditandatangani para pemimpin dunia: Protokol Kyoto. Dari berbagai solusi yang muncul, muncul satu opsi: penghijauan.
Penghijauan diyakini dapat menahan laju pemanasan global. Penjelasan sederhananya adalah karena seperti yang diketahui, pohon-pohon bernapas dengan mengisap CO2 yang diyakini sebagai salah satu gembong tersangka utama global warming. Siapapun bisa mengambil kesimpulan, semakin banyak pohon yang ditanam, semakin banyak CO2 yang diserap mereka, maka akibatnya udara akan semakin bersih dan gas-gas karbon akan berkurang. Ujung-ujungnya, Global Warming akan dapat diperlambat.
 
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Ketika menyadari bahwa penghijauan sangat penting, pemerintah, organisasi, maupun perseorangan berusaha menanam pohon. Jalan-jalan gersang ditanami, halaman belakang rumah ditanami, bahkan para arsitek melakukan inovasi yang belum pernah ada sebelumnya: menanami atap gedung yang mereka buat.
Walau sudah ada banyak program dan “inspirasi” dari berbagai riset, tetap saja masih ada beberapa pihak yang tidak peduli atau bahkan antipati terhadap Global Warming. Mereka masih saja malas menanam pohon. Namun, tak usahlah kita bersungut-sungut karena kelakuan mereka. Ada hal yang lebih mendesak dan pertanyaan yang lebih penting: Peran apa yang sudah kita lakukan untuk melawan Global Warming? Begitu banyak orang yang berwacana, begitu banyak pihak yang memberi solusi brilian, begitu banyak para ilmuwan yang menjabarkan tentang Global Warming. Namun, itu semua takkan ada artinya jika perang melawan Global Warming tidak direalisasikan dalam suatu program nyata yang bersinergi dengan semua pihak. Kita tidak butuh NATO (No Action Talk Only). Kita butuh tindakan, butuh Action. Dalam berpikir dan bertindak, kita mempunyai paradigma yang berbeda. Jika berpikir, biasakanlah berpikir besar, global dan menyeluruh. Akan tetapi, ketika bertindak, biasakanlah bertindak lokal, mulai dari yang terkecil dan mulai sekarang juga. Jadi, alih-alih kita bertindak gila -protes ke seluruh dunia dengan cara memutilasi diri sendiri karena frustasi akibat hutan yang semakin gundul, benang realisasi dari itu sebaiknya adalah segera beli satu bibit pohon, kemudian segera tanam di halaman belakang rumah Anda.
Tidak usah menanam pohon asli yang besar karena akan merepotkan. Cukup menanam bibitnya saja. Tidak perlu menanam segerobak pohon (walaupun tidak dilarang), tapi cukup menanam satu bibit saja. Bisa beli, namun juga bisa mengambil dari tanah halaman rumah. Bisa minta ke tetangga atau memungut dari jalan. Pokoknya bebas (asal jangan maling saja). Sungguh, satu bibit saja…Dan itu pun sudah sangat berarti bagi bumi.




Bukit Duabelas tidak dihuni Gajah Sumatera lagi

5 06 2008

Diduga kuat populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) telah hilang dari kawasan Bukit Duabelas. Hasil penelitian ZSL dari 24 April s.d 07 Juni 2007 di Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dan sekitarnya menunjukkan tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan spesies gajah sumatera.

“Kami telah melakukan rapid survey di dalam cell penelitian seluas 1734 km2 secara berjalan kaki ± sepanjang 249 km selama 3 bulan guna mencari tanda-tanda keberadaan landscape species, yaitu harimau dan mamalia besar lainnya,” kata Coordinator Survey ZSL, Adnun Salampessy, Jum’at (23/5) .

Menurut dia, hasil rapid survey menunjukkan spesies penting harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih menghuni kawasan Bukit Duabelas beserta beberapa predator menarik lainnya, salah satunya adalah macan dahan (Neofelis nebulosa) serta beberapa satwa mangsa potensialnya, yaitu rusa sambar, babi hutan, kijang, kancil dan beberapa jenis monyet. 

Selain satwa mamalia menarik lainnya juga ditemukan beberapa jenis dari kelas Aves yang telah tercatat dalam Red List of Threatened Species IUCN dan terdaftar dalam Lampiran CITES seperti jenis sempidan merah (Lophura erythrophthalma), dan 4 (empat) jenis rangkong. Namun sayang, Tim tidak menemukan tanda-tanda keberadaan landscape species lainnya yang langka, yaitu gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) yang diperkirakan telah punah beberapa tahun lalu dikarenakan aktivitas perburuan dan karena tingginya laju pembukaan hutan yang menjadi habitat gajah dan harimau. Namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan, sepantasnya perlu dilakukan inventarisasi lebih detail agar lebih paten data gajahnya.

Departemen Kehutanan dalam websitenya menjelaskan semula kawasan ini merupakan Kawasan hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas dan areal penggunaan lain yang digabung menjadi taman nasional. Saat ini Hutan alam yang masih ada terletak di bagian Utara taman nasional ini, sedangkan yang lainnya merupakan hutan sekunder. Namun, hasil rapid survey ZSL menunjukkan bahwa salah satu ancaman terbesar Bukit Duabelas adalah pembalakan liar (illegal logging) dan banyak terkonsentrasi di bagian Utara kawasan Bukit Duabelas, yang pemain dilapangannya berasal berasal dari Desa-Desa bagian Utara sekitar kawasan Bukit Duabelas. Selain itu, ancaman perburuan harimau juga terdapat dikawasan Bukit Duabelas sebelah Timur dari Bukit Duabelas dan salah satu pemburu harimau yang secara turun temurun melakukan profesi pemburu harimau berasal dari Desa Jelutih Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batang Hari.

Sayon kelana (Polhut TN Bukit Duabelas) dan masyarakat Orang Rimba juga menjelaskan bahwa pembalakan liar di bagian Utara sudah sangat mengkhawatirkan dan dilakukan oleh Desa-Desa di sekitar bagian Utara Bukit Duabelas. Desa-Desa tersebut merupakan pemain lama dan sudah turun temurun melakukan pembalakan kayu di Bukit Duabelas dan sangat sulit orang-orangnya jika kita ingin melakukan kegiatan pembinaan di sana.

Menurut Wientre (2003) dalam Makalah Studi Lapangan : Organisasi Sosial dan Kebudayaan Kelompk Minoritas Indonesia dengan Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Sumatera (Orang Kubu Nomaden) disebutkan dalam tulisan sejarahnya bahwa sebelum status Taman Nasional Bukit Duabelas diumumkan degradasi habitat sangat signifikan dengan kepunahan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati fauna termasuk serang-serangga, burung-burung, ular-ular, kura-kura, babi hutan, rusa, kijang, harimau sampai binatang menyusui terbesar gajah. Sayangnya spesies gajah telah punah pada tahun 1985 di daerah Bukit Duabelas.

“Selain itu, menurut mayoritas Orang Rimba Bukit Duabelas dan masyarakat lokal yang tinggal disekitaran kawasan Bukit Duabelas menjelaskan bahwa telah puluhan tahun kami tidak pernah melihat dan mendengar kalau masih ada gajah di dalam kawasan Bukit Duabelas dan sekitar Desa kami, namun mereka telah mengetahui dari penduduk yang tinggal di sebelah Utara-Barat dan berada jauh dari kawasan Bukit Duabelas bahwa kawanan gajah suka mengganggu perkebunan kepala sawit milik warga. Sepertinya keberadaan satwa langka gajah sumatera telah punah punah di Bukit Duabelas,” Adnun menambahkan.

ZSL sebagai bagian dari lembaga konservasi dunia bersama PHKA dan beberapa LSM sampai saat ini sedang melakukan kajian ilmiah terhadap status populasi harimau sumatera melalui program/kegiatan utama “island wide survey” berupa penelitian dan pelestarian untuk harimau dan satwa besar liar Indonesia dengan pendekatan bentang alam, serta berupaya mendorong pihak industri untuk berpartisipasi dalam konservasi satwa liar dan habitatnya.

Penelitian di Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas bertujuan untuk mengetahui komposisi spesies vertebrata, kelimpahan relatif dan peta distribusi harimau sumatera dan satwa mangsanya serta predator pesaing harimau sumatera maupun ancamannya serta memahami keberadaan harimau dan spesies lainnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi akurat terkini di Provinsi Jambi, khususnya di Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dalam upaya memahami keberadaan harimau sumatera dan mamalia besar lainnya secara lestari dan berkelanjutan.

Kegiatan survey cepat (rapid survey) mamalia ini merupakan hasil kerja sama antara ZSL dan Balai TN Bukit Duabelas, yang terdiri dari 2 orang field staff dari ZSL, 4 orang volunteer dari Kehutanan Universitas Lampung dan MAPALA Universitas Indonesia, 2 orang dari Orang Rimba dari tiap-tiap Temenggung berdasarkan lokasi survey dan 2 orang staff dari Balai TN Bukit Duabelas. Sebanyak 2 tim telah dibentuk secara teroganisir dan masing-masing tim dikepalai oleh 1 orang sebagai tim leader. ZSL merupakan organisasi yang mengepalai dan memanaje kegiatan rapid survey ini. (AS)


Posting oleh Adnun Salampessy, S.Hut ke HARIMAU JAMBI