memandang jalanan jakarta di suatu sore

28 08 2008

 

 

Bertemu seorang pria paruh baya yang sedang menarik gerobak kayu dengan segala tenaga.

Dari dalam gerobak, terlihat sekilas, seorang ibu dan anaknya yang tidak lebih dari balita. Pria itu mungkin suaminya, ayah sang anak.

Saya memacu motor pelan saja di belakang mereka.

Seperti sayup terdengar lelaki itu memainkan siul, beradu dengan deru klakson.

Sang ibu bermain sayang dengan anaknya, menggoyangkan jari-jarinya sambil tersenyum mesra.

 

Pemandangan yang indah sangat.

 

 

Endji787.06  hidup itu indah





tanda tanya besar pertama

28 08 2008

ada polisi ada macet?

atau

ada macet ada polisi?

 

 

ah. hadirnya tidak lebih dari suara peluit saja.

 

endji787.06 dari jalanan (belantara) jakarta





Memandang jalanan jakarta

28 08 2008

 

 

Memutar roda di jalanan jakarta, entah dengan sepeda, entah motor.

Jakarta  tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu.

Masih dipenuhi bunyi klakson,

Hingar bingar knalpot racing,

Motor motor yang menjajah trotoar,

Laju kencang mobil mewah,

Kopaja sakit-sakitan, batuknya asap hitam,

Bajaj oranye dengan penuh percaya diri memotong jalur,

Lampu lalulintas yang tidak punya fungsi,

Aspal jalanan yang tidak sesuai perhitungan,

Jutaan polisi tidur,

Koruptor koruptor jalanan.

 

Kota ini seperti dibangun dengan egoisme.

 

 

 

Endji787.06  siapa suruh datang jakarta?





simbol

13 08 2008

karena agama itu ditunjukkan dari hati.

bukan lewat simbol-simbol.

bukan lewat bulan dan bintang,

atau kayu salib,

atau jubah merah,

atau surban,

atau simbol lainnya.

 

 

 

 

endji787.06





muntah cahaya

13 08 2008

 

merindukan cahayaMu.

 

 

 

endji787.06





inti

12 08 2008

sepertinya semua masalah berawal

dari cara menyikapi perbedaan.





Kepada Alam dan Pencintanya

8 08 2008

Pendaki gunung sahabat alam sejati

Jaketmu penuh lambang
Lambang kegagahan
Memproklamirkan dirimu pencinta alam
Sementara maknanya belum kau miliki

 

Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Disana kutemui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kesakitan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam

 

Batu-batu cadas merintih kesakitan
Ditikam belatimu yang tak pernah ayal
Hanya untuk mengumumkan pada khalayak
Bahwa disana ada kibar benderamu

 

Oh alam… korban keakuan
Oh alam.. korban keangkuhan
Maafkan mereka yang tak mau mengerti
Arti kehidupan…
-Ritta Rubby Hartland-
lagu ini menampar saia. keras sekali.
pecinta alam baru jadi lambang buat saia.
endji787.06 pecinta alam plastik palsu